Minggu, 30 Juni 2013

Kanker Payudara Mengincar, Ketahui Faktor Risikonya

Kanker Payudara Mengincar, Ketahui Faktor Risikonya
Oleh : Dokter Dinda Anes Tunjungsari*



Belakangan ini Kanker Payudara sedang marak menjadi pembicaraan. Terkait dengan beberapa artis dalam maupun luar negeri, yang mengidap Kanker Payudara. Sebut saja Angelina Jolie, artis ternama ini bahkan tidak ragu-ragu untuk melakukan oprasi Double Mastectomy atau pengangkatan kedua payudara. Seorang artis dan presenter muda dalam negeri,Nira Stania, baru saja dikabarkan tutup usia di 38 tahun juga akibat Kanker Payudara. Statistik mengatakan bahwa 1 dari 8 wanita Indonesia berisiko terkena Kanker Payudara dan setiap 12 menit 1 orang wanita meninggal karenanya. Apakah Anda yakin sudah aman dari incaran Kanker Payudara?
Kanker Payudara adalah proses perubahan dan pertambahan sel yang abnormal dan  penyebaran sel tersebut di payudara. Mengingat keganasan dari kanker ini, kita perlu mengetahui faktor risikonya, antara lain:
1.       Wanita. Walaupun tidak dominan, tetapi laki-laki juga memiliki payudara. Sebagian besar Kanker Payudara ditemukan pada wanita, sedangkan laki-laki hanya menyumbangkan angka kurang dari 1%.
2.       Usia. Seiring bertambahnya usia seseorang, maka akan semakin meningkat pula risiko terkena kanker, dalam hal ini dinyatakan wanita usia diatas 45-55tahun akan lebih berisiko terkena Kanker Payudara.
3.       Riwayat keluarga. Risiko akan meningkat, bila Anda telah memiliki riwayat keluarga yang terkena Kanker Payudara sebelumnya. Terutama jika itu adalah keluarga kandung Anda (ibu kandung, saudara kandung, anak kandung, dll.), maka Anda 2 kali lebih berisiko di banding orang yang tidak memiliki riwayat keluarga serupa.
4.       Genetik. Sekitar5-10% penderita Kanker Payudara diduga akibat genetik, yaitu diturunkannya gen kanker dari orang tua kandung kepada anaknya.
5.       Riwayat Kanker Payudara sebelumnya. Jika Anda telah di diagnosa Kanker Payudara sebelumnya, maka Anda 3-4 kali lebih berisiko untuk mengalami Kanker Payudara lagi.
6.       Radiasi pada dada atau wajah sebelum usia 30 tahun. Bila Anda pernah menjalani terapi radiasi pada dada (akibat kanker yang lain) dan radiasi untuk jerawat pada wajah, maka Anda lebih berisiko terkena Kanker Payudara.
7.       Perubahan bentuk payudara. Bila Anda pernah mengalami masalah pada payudara, seperti muncul benjolan jinak, bisa jadi hal tersebut telah meningkatkan risiko Anda.

8.       Ras/etnis. Wanita kulit putih diduga lebih rentan terkena Kanker Payudara di bandingkan dengan ras Afrika-Amerika dan Asia.
9.       Kelebihan berat badan. Wanita gemuk dan obesitas memiliki risiko lebih tinggi terkena Kanker Payudara, terutama saat menopause.
10.   Riwayat kehamilan. Wanita yang belum pernah menuntaskan 9 bulan masa kehamilan maupun wanita yang baru melahirkan setelah usia 30 tahun, memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang melahirkan sebelum usia 30 tahun.
11.   Riwayat menstruasi. Wanita yang mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun dan menopause setalah usia 55 tahun, memiliki risiko lebih tinggi terkena Kanker Payudara. Dalam 15 tahun terakhir, banyak wanita remaja yang mengalami masa menstruasi lebih dini. Pergeseran masa menstruasi yang tidak diinginkan ini, diduga akibat pengaruh obesitas yang menjamur dan adanya paparan jangka panjang terhadap hormon yang tidak seharusnya. Sedangkan usia menopause tetaplah sama, tidak ada pergeseran.
12.   Menggunakan HRT (Hormone Replacement Therapy) atau terapi pengganti hormon. Orang yang menggunakan terapi pengganti hormon, dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap Kanker Payudara.  
13.   Konsumsi alkohol. Penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol, dapat meningkatkan risiko.
14.   Memiliki payudara padat. Yang dimaksud dengan “padat” disini bukanlah ukuran, tetapi jumlah kelenjar yang mendominasi payudara lebih banyak dibandingkan dengan jaringan lemak. Dikatakan bahwa wanita yang memiliki payudara yang padat, 6 kali lebih berisiko untuk terkena Kanker Payudara.
15.   Olahraga. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara, melakukan olahraga secara teratur selama 4 sampai 7 jam per minggu dengan risiko Kanker Payudara  yang lebih rendah.
16.   Merokok. Merokok dapat menyebabkan beberapa penyakit dan berperan dalam timbulnya Kanker Payudara pada usia lebih muda atau wanita premenopause.
17.   Lain-lain. Beberapa faktor risiko yang mungkin dapat menyebabkan Kanker Payudara adalah: kadar vitamin D yang rendal dalam tubuh, paparan jangka panjang terhadap lampu saat malam hari, paparan terhadap DES (diethylstilbestrol), konsumsi makanan yang tidak sehat, paparan bahan kimia pertanian, paparan bahan kimia plastik, paparan bahan kimia dalam air, dan paparan bahan kimia saat pemrosesan makanan.


Jika anda ingin lebih mengetahui lebih jelas tentang kanker payudara anda bisa berkonsultasi dengan dokter kami. Anda yang di Surabaya bisa datang ke Klinik Sahabat Medika di Jalan Ploso Baru No 165 Surabaya. Telpon 031-3822619. Bagi anda yang tinggal di luar Surabaya, anda bisa bertanya lewat :
·         Twitter : @sahabat_medika ; @dokter_PM

*salah satu dokter di Klinik Sahabat Medika 

Jumat, 14 Juni 2013

Makan Ikan Mengurangi Resiko Mati Mendadak*

Makan Ikan Mengurangi Resiko Mati Mendadak*



Riset sekitar tahun 1980 menemukan penduduk asli Greenland, kendati banyak mengkonsumsi menu berlemak, kematian sebab jantung koroner hanya sedikit. Ternyata mereka banyak mengkonsumsi ikan. Ikan mengandung lemak tak jenuh ganda Omega-3. Kemudian diketahui jenis lemak ini pelindung jantung.



Banyak bukti orang mengkonsumi ikan sedikitnya sekali seminggu, resiko mati mendadak separuh dibandingkan yg kurang makan ikan. Kini para dokter menganjurkan pengidap penyakit jantung mengkonsumsi lebih banyak ikan. Maka, ada ungkapan semakin tua harus semakin mirip kucing. Rakus makan ikan kayak nelayan Okinawa, Jepang, dan doyan makan kacang seperti pria italia.

Butuh informasi kesehatan lebih rinci dari dokter yang berpengalaman dan ahli dibidangnya?? Segera hubungi Dokter Keluarga di Sahabat Medika. Kami akan datang ke rumah anda layaknya sahabat anda.

*diambil dari buku “Sehat Itu Murah” oleh dokter Handrawan Nadesul.

Sabtu, 08 Juni 2013

Kendalikan Hipertensi Anda!!

Oleh : Dokter Dinda Anes Tunjungsari*



Seiring dengan kemajuan zaman, perubahan pola makan dan pola hidup, telah menyumbangkan angka yang tidak sedikit terhadap peningkatan penderita Hipertensi di Indonesia. Inilah saatnya kita merubah pola pikir kita tentang hidup sehat. Selama ini kita berpikir, saat sakit baru kita pergi ke dokter. Pola pikir inilah yang harus kita rubah, pergilah ke dokter sebelum Anda sakit. Dalam hal ini, Hipertensi dapat kita cegah sejak usia muda.

Terapi Hipertensi terdiri dari 2 macam, yaitu terapi non-farmakologis (tidak menggunakan obat-obatan) dan farmakologis (dengan obat-obatan). Terapi farmakologis jelas harus atas sepengetahuan dan pengawasan dokter. Jangan sekali-kali membeli obat Hipertensi sendiri tanpa resep dokter, karena dapat membahayakan diri Anda sendiri.

Terapi non-farmakologis merupakan terapi awal dan terapi tambahan, selain obat-obatan. Terapi non-farmakologis dapat meningkatkan efikasi obat, menurunkan dosis dan jumlah obat yang dibutuhkan, menurunkan efek samping, serta memperbaiki kondisi jantung dan pembuluh darah.



Berikut adalah terapi non-farmakologis yang dapat kita lakukan mulai sekarang:
1.      Menurunkan berat badan. 60% dari penderita Hipertensi, mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Menurunkan berat badan 4-5 kg, dapat menurunkan tekanan darah hingga 7/5 mmHg baik pada penderita yang mengalami obesitas maupun tidak. Penurunan berat badan juga dapat mengawali terjadinya perubahan pola hidup. Selain itu, pada penurunan berat badan, yang berkurang adalah jaringan lemak, bukan otot. Berkurangnya lingkar perut tersebut berperan dalam menurunkan faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah. Hal positif lain yang didapat dengan penurunan berat badan, yaitu menurunkan kadar insulin dalam pembuluh darah, meningkatkan sensitivitas insulin di jaringan, menurunkan kadar katekolamin, menurunkan resistensi vaskuler sistemik, menghambat retensi natrium, dan menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis.
2.      Berhenti merokok. dengan berhenti merokok dapat menurunkan kejadian vasokonstriksi, menurunkan aktivasi system saraf simpatis, kadar norepinefrin, kadar karbon monoksida, menurunkan risiko koagulasi, agregasi platelet,serta stress oksidatif.
3.      Mengurangi atau menghentikan konsumsi kafein. Dapat menurunkan kejadian vasokonstriksi, dan meningkatkan ke-elastisan pembuluh darah aorta.
4.      Membatasi minuman beralkohol. Konsumsi alkohol jangan sampai melebihi 3g/hari atau 20g/minggu. Jika melebihi angka tersebut, alcohol dapat meningkatkan tekanan darah, meningkatkan hormon aldosteron, dan kortisol.
5.      Senam aerobik dan latihan fisik teratur. Kombinasi dari senam aerobik dan latihan fisik teratur yang berkesinambungan, setidaknya selama 60 menit per hari harus dilakukan. Saat penderita telah masuk dalam tahap kondisi jantung dan pembuluh darah yang optimal, penurunan tekanan darah yang dicapai adalah 11,3/7.5 mmHg.
6.      Modifikasi kebiasaan yang tidak baik. Manajemen stress, relaksasi, yoga, pilates, psikoterapi, hipnosis, dan kegiatan spiritual dapat membantu menurunkan tekanan darah.
7.      Hentikan konsumsi obat maupun zat yang dapat meningkatkan tekanan darah. Dalam hal ini, seperti: kontrasepsi oral, kortikosteroid, obat anti nyeri, kafein, alcohol, dan nikotin.
8.      Kontrol  rutin berkala.
9.      Nutrisi optimal.
Terapi farmakologis dan non-farmakologis tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Untuk medapatkan  hasil yang optimal keduanya tetap harus dijalankan secara bersamaan. Dan untuk mendapat perawatan maksimal, silahkan datang ke Klinik Sahabat Medika atau bisa bertanya lewat email kami di kliniksahabatmedika@gmail.com



Rabu, 15 Mei 2013

Sehat Saat Bekerja, Siapa Takut!!


Oleh: Dokter Dinda Anes Tunjungsari



Tahukan Anda, menurut data yang diperoleh ILO (International Labour Organization), setiap hari 6.300 orang meninggal karena kecelakaan kerja atau akibat penyakit akibat kerja. Penyakit akibat kerja menyebabkan seorang pekerja meninggal setiap 15 detik. 317 juta orang per tahun mengalami kecelakaan saat bekerja, tidak sedikit dari mereka yang harus berhenti bekerja dalam jangka waktu yang lama.
Dalam hal ini pencegahan merupakan kunci utama untuk menghambat peningkatan Penyakit Akibat Kerja, dan lebih efektif serta lebih ekonomis dibandingkan dengan pengobatan dan rehabilitasi pada fase lanjut.
Berikut adalah tips yang dapat Anda lakukan agar tetap sehat saat bekerja:
(1)   Ketahui risiko. Ketika Anda telah mengetahui bahaya apa yang mengincar di tempat kerja, Anda akan dapat mengantisipasi hal tersebut, sehingga dapat menurunkan resiko terjadinya kecelakaan maupun penyakit akibat kerja.
(2)   Kurangi stress di tempat kerja. Penyebab stress di tempat kerja seringkali adalah jam kerja yang terlalu panjang, beban kerja yang banyak, dan konflik dengan pekerja lainnya maupun dengan bos. Stress dapat menyebabkan depresi, kesulitan untuk tidur, dan sulit berkonsentrasi.
(3)   Istirahat sejenak. Agar Anda tetap segar dan terjaga, sehingga membantu Anda terhindar dari kecelakaan kerja.
(4)   Hindari gerakan membungkuk atau memutar. Gunakan perabotan dan peralatan yang ergonomis di tempat kerja.
(5)   Gunakan alat bantu mekanis jika memungkinkan. Jika akan memindahkan benda berat, sebaiknya Anda menggunakan peralatan, daripada harus mengangkatnya sendiri. Bila Anda terpaksa harus mengangkatnya sendiri, lindungilah punggung Anda dari cedera dengan medekatkan benda berat tersebut sedekat mungkin dengan tubuh Anda dan pusatkan bebannya pada otot lengan.
(6)   Gunakan alat pelindung kerja. Jika digunakan dengan benar, alat pelindung kerja seperti penutup telinga, kacamata pelindung, sarung tangan, penutup mulut, dll. dapat menurunkan risiko kecelakaan kerja secara signifikan.


(7)   Tetap konsentrasi. Mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan dapat menurunkan konsentrasi Anda, yang akan berujung pada kecelakaan kerja.
(8)   Jangan lupa sarapan dan makan siang. Sebagian orang memilih untuk sarapan dan makan sinag di kantor dengan menu yang serba cepat saji. Pertimbangkan kembali angka kecukupan gizi dalam menu Anda. Menu yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi, bisa saja membuat Anda cukup kenyang, tapi bukanlah menu terbaik yang seharusnya dikonsumsi.
(9)   Minum cukup air. Menghindari dehidrasi dapat membuat Anda tetap berenergi sepanjang hari, dan menghindarkan Anda dari perasaan lapar, karena pada kenyataannya Anda hanya dehidrasi.
(10)                       Bangkit dan bergeraklah. Saat Anda merasa mengantuk, bangkitlah dari tempat duduk Anda, jalan dan hiruplah udara segar sejenak. Bukan hanya baik untuk otot Anda, ini juga akan membantu memperbaiki sirkulasi darah, dan mengurangi rasa lelah Anda.
Anda menghabiskan sebagian waktu Anda di tempat kerja, maka dari itu sangatlah penting untuk membuatnya seaman dan senyaman mungkin. Selamat mencoba beberapa tips diatas, dan rasakan betapa Anda akan merasa semakin bersemangat dan tetap sehat di tempat kerja.

Update terus info kesehatanmu dengan :
·         Follow Twitter kami di : @klinikploso ; @dokter_PM
·         Like FB fanpage kami di : dokter.keluargasurabaya ; kesehatanpegawai

Rabu, 08 Mei 2013

Pentingnya Punya Dokter Keluarga


Oleh : dokter Handrawan Nadesul



Buat kita di Indonesia kehadiran dokter keluarga amatlah penting. Pertama, karena belum semua masyarakat masuk asuransi. Kedua, ongkos berobat masih terbilang tinggi, dan sistem layanan kesehatan pun belum memihak kepada pasien. Ketiga, pranata kesehatan rata-rata masyarakat kita masih belum kokoh, sehingga sering salah dalam menentukan alamat berobat.

Alhasil, sudah tinggi ongkos berobat yang harus dikeluarkan, belum tentu hasilnya memuaskan. Sistem layanan kesehatan kita memiliki jalur cepat bagi pasien mampu, dan layanan jalur lambat bagi yang tidak mampu.

Dilayanan jalur lambat berlaku aturan sistem rujukan. Artinya layanan medis berjenjang dari yang paling sederhana (Puskesmas) sampai ke yang lebih lengkap (rumah sakit kabupaten sampai top refferal RSCM). Tidak demikian layanan medis jalur cepat yang boleh bebas memilih sesuai dengan kemampuan. Sakit flu memilih dokter spesialis, asal bayar sendiri, tidaklah dilarang.

Layanan medis jalur cepat tentu saja berarti memasuki industri medis dengan segala tabiat buruknya. Pemeriksaan yang saling tumpang tindih, de-humanisasi layanan, dan polypharmacy (meresepkan obat berlebihan), bagian dari hiruk pikuk pasar medis kalangan orang mampu. Termasuk resiko memasuki wilayah bisnis perumahsakitan.

Melihat kondisi layanan medis seperti itu, bagi layanan medis jalur lambat maupun jalur cepat agaknya sama-sama sedang membutuhkan kehadiran dokter keluarga. Untuk apa? Dokter Keluarga mengenal betul kondisi medis seluruh anggota keluarga yang diinanginya. Bahkan sejak lahir, lengkap dengan rekam mediknya. Apapun masalah medik yang dihadapi keluarga, dokter keluarga menjadi tempatnya bertanya, dan sekaligus berobat.


Oleh karena itu dokter keluarga sudah sangat mengenal setiap anggota keluarga langganannya, maka setiap angota keluarga terjamin akan selalu aman dalam berobat. Aman karena tidak mungkin dokter yang sudah sangat mengenal pasiennya akan membahayakan diri pasien dibanding apabila berobat ke dokter selewat siapa saja seperti kebanyakan terjadi sekarang ini. Bahaya tak cocok obat, salah memberi obat, atau alpa mendiagnosis, jauh lebih kecil kemungkinannya ditangan dokter keluarga.

Dokter keluarga juga tidak akan memberikan obat yang langsung keras seperti dokter selewat, karena setiap dokter keluarga akan terus memantau kondisi pasien. Kalau tidak perlu benar obat, dokter tidak meresepkannya.

Dokter selewat, mengira pasien tidak akan datang kembali dalam waktu satu dua  hari, umumnya langsung memberikan obat yang keras agar langsung bisa menyembuhkan. Orang bilang resep dokter selewat cenderung bersikap agar penyakitnya langsung ditembak. Ibarat mematikan lalat dipakainya pistol.
Dokter keluarga juga yang akan merujuk pasien ke alamat berobat yang paling tepat. Mungkin kepada sejawat yang sudah amat dikenalnya, sehingga komunikasi medis demi kesembuhan terbaik pasien bisa terbangun.

Tanpa dokter keluarga, pasien mungkin salah memilih alamat berobat. Padahal alamat berobat menentukan keberhasilan penyembuhan penyakit, selain tidak harus boros, atau mungkin berakhir dengan hasil nihil.
Dokter keluarga menjauhkan pasien dari resiko malpraktik, baik oleh dokter pribadinya sendiri, mapun oleh dokter ahli yang dirujuk oleh dokter keluarganya. Dokter keluarga, sebagaimana halnya dokter pribadi, selalu siap setiap saat on call sehingga kejadian penyakit gawat terlambat ditangani tidak sampai terjadi.


Rabu, 01 Mei 2013

Benarkah imunisasi MMR menyebabkan Autis?



By Dokter Dinda Anes Tunjungsari




MMR adalah kepanjangan dari Mumps, Measles, Rubella yang dalam keseharian biasa dikenal dengan campak. Beberapa tahun terakhir banyak beredar isu yang mengatakan bahwa imunisasi MMR memiliki peranan terhadap kejadian Autis pada anak. Tak dapat dipungkiri isu ini cukup mengusik para orang tua yang memiliki anak balita, oleh karena sejauh ini imunisasi dianggap sebagai salah satu cara untuk membuat anak terhindar dari penyakit. Untuk lebih jelasnya mari kita lihat sejenak pada awal mulanya isu ini beredar.
Pemberian vaksin MMR dilakukan saat anak berumur 15 bulan, sedangkan deteksi dini untuk Autis dilakukan saat anak berumur 18 bulan. Jangka waktu yang tidak jauh antara pemberian vaksin MMR dengan kejadian Autis inilah, yang memicu munculnya dugaan bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan Autis.

Pada tahun 1999, peneliti asal Inggris, Brent Taylor meneliti hubungan antara anak yang mendapat imunisasi MMR dengan kejadian Autis, melalui studi yang sangat terkontrol. Taylor mengumpulkan 498 data anak yang di diagnosa Autis maupun kelainan yang mirip Autis di North Thames Inggris sebelum dan sesudah diperkenalkannya vaksin MMR tahun 1988. Kemudian Taylor memeriksa insidensi umur saat anak di diagnosa Autis pada anak yang mendapatkan imunisasi MMR dan yang tidak mendapatkan imunisasi MMR. Hasilnya adalah: (1) Persentase anak yang mendapatkan imunisasi maupun tidak, sama pada kejadian Autis; (2) Tidak ada perbedaan umur anak saat di diagnosa Autis pada kelompok yang diimunisasi maupun tidak; (3) Gejala kemunduran pada anak Autis tidak terjadi dalam 2,4, maupun 6 bulan setelah mendapat imunisasi MMR.

Selain penelitian Taylor tersebut, banyak penelitian-penelitian lain bermunculan yang sependapat dengan Taylor bahwa tidak adanya hubungan antara pemberian imunisasi MMR dengan kejadian Autis.



Apa pengaruhnya bila anak kita tidak di imunisasi MMR? Di Amerika, sebelum vaksin MMR diperkenalkan, terdapat 3-4 juta kasus campak setiap tahunnya. Dan 450 kasus diantaranya dilaporkan meninggal setiap tahun. Pada tahun 1998-1999 dikatakan 1 dari 500 kasus campak meninggal. Tentu kita tidak ingin salah satunya adalah saudara atau bahkan anak kita.

Setelah imunisasi MMR apa yang dapat terjadi pada anak? Reaksi yang dapat terjadi setelah imunisasi MMR berupa rasa tidak nyaman di bekas penyuntikan. Selain itu dapat terjadi gejala lain yang timbul 5-12 hari setelah penyuntikan selama kurang dari 48 jam, yaitu demam tidak tinggi, erupsi kulit kemerahan halus/tipis yang tidak menular, pilek. Pembengkakan kelenjar getah bening kepala dapat terjadi sekitar 3 minggu pasca imunisasi MMR.

Yang dapat dilakukan dirumah oleh orangtua/pengasuh adalah memberikan minum lebih banyak (ASI atau air buah), jika demam pakailah pakaian yang tipis, bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin, jika demam berikan parasetamol bisa 3-4 kali sehari bila diperlukan maksimal 6 kali dalam 24 jam, boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat. Jika reaksi-reaksi tersebut berat dan menetap, atau jika orangtua merasa khawatir, bawalah anak ke dokter.

Setelah membaca penjelasan diatas, apakah Anda akan menolak memberikan imunisasi  MMR pada anak Anda? Bijaklah dalam mengambil keputusan untuk anak, karena mereka adalah para generasi penerus bangsa. Semoga bermanfaat. =)

Rabu, 24 April 2013

PENGATURAN POLA HIDUP ASAM URAT TINGGI (ARTRITIS GOUT)


PENGATURAN POLA HIDUP ASAM URAT TINGGI (ARTRITIS GOUT)
Oleh : Dokter Almitra *


Terapi untuk mengatasi asam urat terdiri dai beberapa hal:
1.      Penanganan serangan artritis akut
2.      Penanganan jangka panjang untuk menurunkan kadar asam urat
3.      Perubahan gaya hidup untuk mengontrol kadar asam urat

Penanganan Serangan Akut
Serangan akut arthritis gout biasanya ditandai hal-hal berikut:
a.      Tanda pasti:
a.      Adanya kristal monosodium urat pada cairan sendi
b.      Adanya kristal monosodium urat pada tofus
b.      Tanda peradangan pada sendi: merah, bengkak, nyeri
c.       Terutama paling sering mengenai sendi jempol kaki atau telapak kaki
d.      Serangan biasanya di satu sisi dan satu sendi saja
e.      Terdapat tofus (pengumpulan kristal urat pada sendi)
f.        Adanya kadar asam urat darah tinggi
g.      Kemungkinan infeksi sendi disingkirkan (tidak demam, tidak ditemukan bakteri pada cairan sendi)
h.      Pada foto rontgen ditemukan pembengakan sendi yang asimetris dan kista subkortikal tanpa erosi
Penanganan pada serangan akut terutama dengan obat-obatan anti radang seperti NSAID,  steroid atau kolkisin yang dapat diresepkan oleh dokter Anda sesuai dengan keadaan Anda.


Penanganan Jangka Panjang
Pada pasien-pasien tertentu, dibutuhkan penanganan jangka panjang yang bertujuan menurunkan kadar asam urat dan mencegah kekambuhan. Indikasi untuk penanganan jangka panjang adalah:
a.      Serangan gout akut berulang (dua atau lebih dalam satu tahun)
b.      Ditemukan tofus
c.       Terdapat kelainan sendi kronik
d.      Perubahan radiologis yang sesuai dengan gout

Faktor lain yang mempengaruhi keputusan dimulainya terapi adalah keparahan serangan, adanya penyakit pemberat dan keinginan pasien.

Allopurinol adalah jenis obat yang paling sering digunakan dalam penanganan jangka panjang karena obat ini menghambat enzim untuk produksi asam urat, Adapun penggunaan dan dosisnya harus disesuaikan dengan keadaan setiap orang sehingga pasien disarankan tidak menggunakan obat ini sembarangan dan harus dengan resep dokter.

Diharapkan dengan penanganan jangka panjang, kadar asma urat pasien akan terkendali kurang dari 7,5 mg/dL pada pria dan kurang dari 6,4 mg/dL pada wanita.
Pasien dengan penanganan jangka panjang sebaiknya kontrol 1 tahun sekali. Kontrol rutin ini berguna untuk menilai adanya gejala serangan gout dalam 1 tahun terakhir, evaluasi kadar asam urat, evaluasi terapi dan ketaatan berobat, serta menilai risiko penyakit kardiovaskuler karena diketahui adanya hubungan asam urat dengan risiko penyakit kardiovaskuler yang lebih tinggi.

Perubahan Gaya Hidup
Selain obat-obatan., pasien dengan asam urat tinggi juga membutuhkan perubahan gaya hidup untuk menjamin target terapi tercapai dan kadar asam urat selalu terkontrol.


Hal yang dianjurkan
·         Jaga berat badan ideal
·         Konsumsi produk susu rendah lemak, kedelai, protein nabati
·         Minum air > 2L/hari
·         Olahraga intensitas sedang
·         Kompres dingin dan istirahat sendi yang sedang terkena serangan gout

Hal yang dihindari
·         Hindari konsumsi alkohol
·         Hindari makanan dengan kandungan purine tinggi:
·         Daging merah
·         Kerang
·         Jeroan
·         Kangkung
·         Teh
·         Melinjo
·         Hindari makan tinggi protein dan rendah karbohidrat
·         Hindari kurang cairan
·         Hindari olahraga berlebih dan cedera sendi

Jika anda ingin memastikan kondisi anda seperti apa, anda bisa datang langsung ke Klinik Ploso Medika di Jalan Ploso Baru no 165, Telp 031-3822619. Jika anda tidak bisa datang ke tempat kami, kami bisa datang ke tempat anda.


*  Adalah dokter di Klinik Ploso Medika